Ubur-ubur Lembur: Cerita Perjalanan Karir Raditya Dika (Book Review)
Raditya
Dika, salah satu Penulis favorit saya sejak dulu. Karya-karyanya bisa dibilang yang membuat
saya menyukai membaca buku, dan karyanya juga yang membuat saya addict dengan
buku-buku lain. Tahu betul karir Radit dimulai, sejak buku Kambing Jantan,
tulisan-tulisannya di blog sampai sekarang sudah jadi pemain film serta duduk
di bangku Sutradara pada filmnya. Perjalanan panjang, yang kadang kalau saya
melihat Radit berkata “Ya ampun you deserved it, Dit!”
Buku-buku
Radit yang seputar kehidupannya sehari-sehari selalu cocok untuk saya yang
tidak begitu menyukai tulisan-tulisan berat. Ringan tapi penuh makna, itulah
yang ingin Radit sampaikan kepada penulis. Tulisannya memang tak begitu berat,
tapi jika kamu membacanya ada banyak hal yang akan kamu terima dari Radit,
terlebih jika kamu memanandang semua karya-karyanya dari sudut pandang yang
berbeda.
Saya dan
teman-teman saya sempat berpikir ketika Radit mengeluarkan buku barunya,
Ubur-ubur Lembur. Gila ya, masih sempat ini orang nulis buku di tengah
kesibukannya yang sudah jadi juri Stand Up Comedy-an, Komika yang materinya
sudah terjadwal buat release di Channel Youtube nya, nulis naskah film, buat
film, buat vlog bahkan sekarang dia juga harus menyiapkan mental dan fisik
untuk pernikahannya. Tapi setelah itu saya ga heran, kenapa Ubur-ubur Lembur
ini hadir di awal tahun 2018. Orang produktif, memang selalu menyempatkan
berkarya di tengah kesibukan apapun.
Bukan
Raditya Dika namanya, jika mengeluarkan buku dengan judul yang unik. Dari awal
hingga saat ini Radit selalu konsisten mengeluarkan karya dengan judul
menggunakan nama binatang. Pada Ubur-ubur Lembur saya berusaha memahami
lembar-per lembar nya, bahkan sampai saya mendapatkan kenapa Radit memberikan
judul binatang ini, sampai pada akhirnya saya menangkap pesan yang ingin Radit
sampaikan, simple but so touching. Terkadang syaa berpikir Radit ini sebenarnya
kalau nulis suka tersedih, tapi karena peran orang sekelilingnya yang dia
ceritakan jadilah kita dibuatnya terbahak. Seperti dalam buku ini, bahkan ada
touching momment dimana Radit kangen banget sama tetangganya dulu dan ingin
sekali bersua karena sudah lama sekali.
Ubur-ubur
Lembur tentang apa?
Seperti yang
sudah saya jelaskan di atas, buku ini tentang perjalanan karir Radit sejak awal
dia menjadi Cungpret (Kacung Kampret) – meminjam kata dari Almira Bastari pada
novel Resign!- hingga menjadi seperti saat ini, bagaimana Radit yang belum
punya tujuan ketika sudah mendekati ujian akhir SMA, Radit yang resign demi
menjadi full writer. Jadi, kalau saat ini kamu belum tahu mau jadi apa, tenang
saja toh Radit juga dulu seperti kamu, tingggal terus saja eksplore diri kamu. And
you’ll find what do you want to be.
Pada awal-awal
bab saya kurang menangkap pesan Radit pada buku ini, setelahnya saya rasa buku
ini lumayan asik untuk mengambil pelajaran dari orang yang sudah sukses, bahkan
orang terkenal seperti Radit sering sekali mengalami hal-hal yang tak
menyenangkan. Kemana pun dia pergi selalu saja ada yang minta selfie, bahkan
ketika dia sedang menulis di sebuah cafe. Hal konyol yang ada pada buku ini
adalah bagaimana seorang anak Sd bertanya padanya, “Bagaimana sih caranya jadi
Artis?’’ iyak netizen memang punya syndrom pengen banget jadi artis dan
terkenal, itu juga alasannya kenapa sekarang banyak anak ABG atau masih bau
kencur yang mulai merambah dunia Youtube, ya karena pengen terkenal dan
kehidupannya juga banyak pengen orang-orang tahu, jadilah dia membuat video
sendiri tentang dirinya. Ya, kalau artis kan ga perlu ngerekam sendiri ya
karena selalu saja ada pemburu berita yang siap mewawancarainya. Walaupun sekarang
sudah terbukti banyak artis-artis yang punya channel pribadi untuk menggugah
pertamanan dia dengan artis lain, atau bahkan bagaimana wujud closet mereka.
The hell, ini yang pertama kali saya bilang ketika ada artis yang meng-upload
closet-nya dengan durasi 15 menit “trus kalau saya tahu closet nya dia kenapa? Abis
ngeliat saya bakal terinspirasi gitu? Hahah” little bit rude ya, tapi ya itu
saya bahkan menggunakan youtube untuk mengasah skill dan melihat hal-hal yang
penting, seperti channelnya Deddy Corbuzier, Remot Tivi dll.
So, back to the
topic. Pada buku ini, yang membuat saya tercengang adalah bagaimana percakapan
Radit dan Prili. Menjadi artis papan atas ga melulu bahagia, bahkan sering kali
orang disekitarnya mengambil keuntungan. Prili sempat dipaksa buat upload foto
dengan temannya, karena si teman ingin
sekali memperbanyak followers. Sinting! Hahaha. Jadi dia temanan sama Prili Cuma
karena pengen banget followersnya nambah. Ya Tuhan, musti diapain orang-orang
yang kaya gini. Kebayangkan kalau kamu terkenal orang-orang yang dekat sama kamu
bisa jadi dekat karena ada maksud. Padahal percuma ya, banyak followers kalau
postingannya ga ngasih banyak manfaat bagi orang lain. Duh!
Recommended ga
nih buat dibaca?
Lucu.
Touching. Usefull. 3 kata yang pantas saya layangkan untuk buku ini. Bisa jadi
buku ini adalah project film Radit yang berikutnya. I wish. Mengingat, beberapa
tahun terakhir Radit absen dari dunia perfilman, yang mungkin karena harus mempersiapkan
pernikahannya.
Buku ini,
bagus buat kamu yang ingin belajar memahami hidup lebih dalam lagi. Serta bagus
juga buat kamu yang suka numpang ketenanaran orang lain, atau suka memanfaatkan
temanmu atau kamu yang bercita-cita menjadi terkenal. Read it, and you’ll know
more about live. Hidup bukan hanya tentang seberapa orang kenal kamu, tapi
seberapa banyak orang yang mendapat manfaat kamu.

Comments
Post a Comment