Nostalgia Lewat Buku Anak Aku, Meps & Beps (Book Review)
Masa kecil
adalah masa-masa yang sangat-sangat menakjubkan. Jelas menakjubkan, dimana kamu
ga perlu lagi berpikir besok makan apa, kapan nikah, ribut mau resign dari kantor,
atau mikir kenapa si temen suka bermuka dua. Karena yang ada dalam benak anak
kecil hanya main, main dan main. It’s fun. Always be fun. Setiap dari kita pasti ingin sekali
kembali ke masa kecil, masa dimana setiap libur nonton film kartun dari pagi
sampai sore atau cukup nebeng tv teman untuk menonton Disney Channel.
Menemukan buku
Aku, Meps dan Beps karya anak dan ibu, Soca Sobhita dan Reda Gaudiamo,
sangat-sangat menyenangkan sekali. Buku yang diambil dari sudut pandang si anak
yang mana akan membawa kita pada masa kana-kanak. Simple story yang disampaikan
oleh ibu dan anak ini membuat saya berpikir bahwa menulis itu mudah sekali
ternyata, hanya perlu menggali dan berpikir lebih keras untuk menghasilkan
karya yang berbeda.
Out of the
box, itu yang dihadirkan dalam buku ini. Bahkan saya baru pertama kali membaca
buku anak seperti ini. Buku yang ditulis dari sudut pandang sang anak, so bisa
dipastikan ketika kamu membaca buku ini, kamu akan membaca dalam hati dengan
logat anak-anak. Selalu asik menyaksikan perjalanan seseorang dan kali ini kita
akan disuguhkan perjalanan Soca ketika kecil dan bagaimana orang tuanya
merawatnya. Simpel memang, tapi banyak yang akan kamu dapat dalam buku ini.
Reda sang
ibu mencoba mematahkan skeptis di masyarakat tentang bapak yang harus mencari
nafkah buat keluarga dan ibu yang harus memasak dan menjaga buah hati di rumah.
Lewat penuturan sang anak, kita akan dibawa bagaimana Meps, panggilan sang anak
untuk ibunya dan Beps, untuk sang ayah, merawat anak dengan peran keluarga yang
justru sebaliknya. Beps bekerja di rumah dan mengantar jemput sang anak dan
istri, serta Meps yang bekerja kantoran bahkan cukup sering lembur di kantor.
Aku, Meps
& Beps ringan dibaca namun susah dilupakan karena cerita-cerita yang
dihadirkan memang betul-betul menggemaskan dan membuat kita nostalgia masa
kecil. Saya juga suka bagaimana penulis-penulis ini menceritakan hal kecil
menurut orang dewasa, namun mungkin itu hal yang sangat penting bagi anak-anak.
Saya jatuh cinta bukan pada halaman pertama, bahkan saat membaca blurp buku ini
saya langsung mantap ingin membelinya. Lucu dan unik.
Setiap buku mempunyai
kata-kata iconic dalam bukunya, itulah yang membuat saya selalu ingat pada
sebuah buku. Dalam buku Resign! Almira menggunakan kata Cungpret – Kacung Kampret
– untuk menggambarkan sosok karyawan kantoran. Namun dalam buku ini, entah
memang dari lahir atau hanya dalam buku ini si anak memanggil ibunya dengan
sebutan Meps dan Beps untuk sang ayah. Apapun itu, dua kata itu berhasil
mencuri perhatian saya dan mungkin akan selalu terngiang. Dan saya jadi pengen
punya panggilan Meps ketika menjadi ibu kelak. Hahaha.
Kesuksesan buku
ini hadir karena penerbit indie yang mulai menarik perhatian saya di tahun
2017, bahkan saya lebih tahu mereka punya toko buku terlebih dahulu dibanding
dengan penerbitan mereka. Toko buku alternatif yang hadir di tengah-tengah toko
buku besar di jakarta, membuat saya jatuh cinta, pasalnya buku-buku di toko
buku ini bagus-bagus dan jarang ada di toko buku besar. Semanjak kehadirannya,
saya jadi rajin beli buku karya penulis-penulis Amerika Latin. Yang mana
karyanya membuat saya menggelengkan kepala, terbahak atau menyunggingkan bibir
kiri.
POST Press
penerbit indie baru yang menerbitkan karya dengan satu syarat, naskahmu harus
sangat-sangat digandrungi oleh mereka. Dan hasilnya pun cukup menakjubkan karya-karya
terbitan POST Press berbeda dari buku yang ada di pasaran. Mereka hadir bukan
untuk mengikuti pasar, tapi mereka hadir untuk memberikan bacaan yang bisa
dibilang pasar yang akan mengikuti mereka. Seperti buku ini, ternyata sudah
masuk cetakan ke-4 di tahun 2018, buku ini terbit pada tahun 2016. Awesome
bukan? Walau saya kurang tahu cetakan pertama mereka cetak berapa eks. Dan bisa
dibilang hadir dengan cukup berani, buku pertama terbitan POST, Aku Meps &
Beps bukan hanya berbeda dari segi cerita tetapi lengkap dengan gambar yang
benar-benar sangat mendukung cerita dalam buku.
Buku-buku indie yang hadir terkadang memang sangat total, baik segi cerita alur dan look buku itu sendiri. Begitu juga yang saya rasakan pada buku terbitan POST Press ini nampaknya di-design dengan sangat menarik mungkin, pembatas buku yang dibuat menyatu dengan cover serta tata letak ISBN yang cukup berbeda seperti buku pada umumnya. Hal kecil namun sangat unik. Sungguh.
Comments
Post a Comment