Ringan Dan Penuh Dengan Gelak Tawa
Akhir-akhir ini banyak sekali musikalisasi puisi muncul di
timeline dan explore instagram saya. Sejak dahulu puisi sukses membuat siapapun
membacanya menggetarkan hati, atau mungkin bisa terisak ketika mendengar
musikalisasi puisi atau membaca puisi dalam sebuah buku. Bahkan film Ada Apa
Dengan Cinta (AADC) tahun 2002 yang dipemerankan utamanya, Rangga (Nicolas
Saputra) dan Cinta (Dian Sastro) gemar
sekali membuat dan membaca puisi.
Namun, tahun 2016 muncul buku puisi yang menurut saya agak
beda. Di tengah ramainya orang membuat puisi romance dan bikin baper, kali ini
Beni Satryo melahirkan Buku Pwissie Pendidikan Jasmani dan Kesunyian yang
mengundang gelak tawa siapapun membacanya. Buku karya beni Satryo, saya
dapatkan ketika mencari-cari referensi di situs goodreads.com membaca beberapa
contoh pwissie karyanya sangat membuat saya penasaran dan menggelitik, sampai
akhirnya saya memutuskan untuk membeli dan membacanya. Beberapa kali berkunjung
ke Pos Santa melihat buku ini tapi selalu mengurungkan diri untuk membelinya. Akhirnya,
ketika Pos Santa berulangtahun 3.0 (2017) Beni Satryo hadir dan membacakan puisi
barunya. Dan barulah saya membeli buku puisi karya pertamanya, dan meminta
tanda tangan. Punya kepuasan tersendiri ketika membeli buku juga dapat meminta
tanda tangan dari penulisnya langsung.
Membaca buku pwissie karya Beni Satryo membuat saya tertawa
terbahak-bahak, dengan bahasa yang mudah dimengerti. Selain, gaya bahasa dan
penyampaian penulis, tema yang diangkat juga sangat dekat dengan kita. Membaca Buku
Pwissie Pendidikan Jasmani dan Kesunyian membuat saya bergumam dalam hati “Ini
orang makannya apa sih? Kok bisa dari metromini, kuah soto, buntil, pantura
dll.” Setelah membaca buku pwissie ini, Beni menyadarkan siapapun bahwasanya
ide menulis itu bisa darimana saja, sesuatu yang dekat dengan kita, bahkan
sesuatu yang menurut orang lain mustahil untuk dijadikan tema tulisan yang
berbeda.
Buku yang dibandrol dengan harga 55.000 ini cukup tipis, berisi
58 halaman pwissie yang cukup pendek bahkan tidak ada satu pwissie Beni yang
panjang sampai dua lembar. Bukan hanya itu, Beni membuat buku ini sangat khusus
untuk pembacanya, dengan menggait penerbit EA Books, buku ini juga dibuat
dengan kertas yang lebih tebal dari buku pada umumnya serta ukuran yang lebih
kecil. Terlihat sekali Beni tidak mau main-main menerbitkan buku pwissie
pertamanya, bukan hanya judul, tema dan isi bukunya yang berbeda bahkan cover
dan bentuk bukunya beda dari buku yang sudah terbit.
Bahkan, buku ini dapat dinikmati ketika kamu dalam perjalanan
di kereta, TransJakarta atau menunggu jemputan. Buku yang sangat ringan dan
penuh dengan gelak tawa ini cocok juga dibaca senin pagi, sebagai mood booster.
Biasanya kalau mendengar atau membaca sesuatu yang lucu membuat mood kamu
menjadi baik sepanjang hari. Walaupun begitu bukan berarti buku ini tidak ada
kekurangan. Menurut saya pribadi, buku ini memang penuh humor yang menggelitik
tapi ada beberapa pwissie yang ditulis mengundang saya untuk mengernyitkan
dahi. Nampaknya otak saya agak susah mencerna beberapa part yang ada di buku
ini, bahkan saya sering membaca lebih dari satu kali pwissie yang kurang saya
mengerti. Bagaimana pun juga Beni hadir dikerumunan dengan warna yang berbeda,
sehingga mudah saja siapapun mengingat Beni dan karyanya.
Mungkin bukan hanya Beni yang sudah menerbitkan buku dengan
gaya humor, konon dulu juga ada sastrawan yang pernah menerbitkan buku puisi
dengan humor khas. Apapun menurut saya Beni hadir di #JamanNow menyegarkan di
tengah hiruk pikuk para pembuat puisi romance.
Rating Goodreads.com : 3/5


Comments
Post a Comment