Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi: Aneh Tapi Nikmat (Book Review)
ISBN: 978-979-1079-52-5
Penerbit: Banana
Penulis: Yusi Avianto Pareanom
Terbit: Maret 2016 (Cetakan ke-1)
Halaman: 448 halaman
Bahasa: Indonesia
Harga: -
Book Reviewer: Diah
Sally
Tak ada senjata lebih tajam ketimbang akal,Tak ada perisai lebih ampuh ketimbang nyaliTak ada siasat lebih unggul ketimbang hati– Yusi Avianto, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi -
Dan Yusi Avianto unggul dalam
mendongengkan kisah pada buku ini dengan sepenuh hati, tak heran jika buku ini
berhasil mendapat penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2016 untuk kategori
Prosa. Jika mengacu pada Wikipedia, Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa
adalah sebuah ajang penghargaan bagi dunia kesustraan Indonesia yang didirikan
oleh Richard Oh dan Takeshi Ichiki tahun 2001. Dan penghargaan ini diberikan
kepada Penulis yang menerbitkan buku-buku puisi dan prosa dalam waktu 12 bulan
terakhir dan diseleksi secara ketat oleh dewan juri.
Bercerita tentang Sungu Lembu yang
menjalani hidup dengan membawa dendam. Raden Mandasia menjalani har-hari
memikirkan penyelamatan Kerajaan Gilingwesi. Keduanya bertemu di rumah dadu
Nyai Manggis di Kelapa. Sungu Lembu mengerti bahwa Raden Mandasia yang memiliki
kegemaran ganjil mencuri daging sapi adalah pembuka jalan bagi rencananya.
Maka, ia pun menyanggupi ketika Raden Mandasia mengajaknya menempuh perjalanan
menuju Kerajaan Gerbang Agung.
Berdua, mereka tergulung dalam pengalaman-pengalaman
mendebarkan: bertarung melawan lanun di lautan, ikut menyelamatkan pembawa
wahyu, bertemu dengan juru masak
menyebalkan dan hartawan dengan selera makan yang menakjubkan, singgah
di desa penghasil kain celup yang melarang penyebutan warna, berlomba melawan
maut di gurun, mengenakan kulit sida-sida, mencari cara menjumpai Putri
Tabassum Sang Permata Gerbang Agung yang konon tak pernah berkaca – cermin-cermin
di istananya bakal langsung pecah berkeping-keping karena tak sanggup menahan
kecantikannya, dan akhirnya terlibat dalam perang besar yang menghadirkan hujan
mayat belasan ribu dari langit.
Unpredictable
Story yang dihadirkan
oleh Yusi Avianto, membuat siapa pun yang membaca lembar pertama akan terus
membaca hinggal lembar terakhir buku ini. Hal yang paling menyenangkan adalah
kisah tentang perjalanan seseorang dari satu tempat ke tempat lainnya, dan Yusi
Avianto mengemas kejadian-kejadian yang terjadi dalam buku ini dengan sangat
gemas, bahkan pembaca akan ikut merasakan kengerian atau mungkin kejenakaan
orang-orang di dalam kisah ini. Yang pasti penulis akan membawa kita untuk menebak
kejadian-kejadian yang ditulis meminjam dari cerita dongeng dari zaman mana dan
kapan.
Bedebah adalah kata yang paling pas untuk
kecermatan, kejelian dan keseluruhan isi daalam buku yang Penulis buat. Bagaimana
tidak setiap membahas kisah dengan karakter yang berbeda, dan selalu memberikan
banyak kejutan, baik alur yang tidak diduga juga dengan kata-kata yang spontan
akan membuat kamu tersontak atau terbahak. Entah apa yang ada di dalam kepala
Yusi Avianto ketika menulis dongeng dengan nuansa kekinian, agak sedikit aneh,
namun nikmat untuk disantap. Seperti kopi, yang semakin pekat, semakin nikmat baud
an rasanya. Buku yang sangat ‘kaya’ dengan kosakata yang mungkin jarang atau bahkan
tidak pernah kamu dengar. Penggunaan kosakata yang asing menunjukan bahwa penulis
kaya akan pengetahuan dan ilmu sastra dan secara tidak langsung mengajarkan
pada kita untuk kembali mengenal bahasa Indonesia yang benar dan mengingatkan
kita untuk membuka KBBI.
Awal mula ketertarikan saya membaca buku
ini karena beberapa teman memberingan rating 5 bintang pada buku ini, ketika
saya melihat judulnya, saya pun langsung memasukan buku ini dalam daftar buku
yang harus dibaca. Penulis berhasil menghipnotis saya dengan judul yang aneh,
saya rasa siapapun akan mengernyitkan dahi ketika membaca judul buku ini, Raden
Mandasia si Pencuri Daging Sapi. Dan benar, itu adalah hobi sang raden yang
agak sulit diterima otak saya, atau mungkin kamu juga. Selain itu, ketertarikan
bertambah ketika melihat cover buku yang cukup simple namun membuat penasaran.
Menulislah, agar hidupmu tak seperti hewan ternak, sekedar makan dan tidur sebelum disembelih (Hal: 306)
Percakapan di atas ketika dalam
perjalanan menuju Kerajaan Agung antara Loki Tua dan Sungu Lembu agar tidak
bermalas-malasan selama perjalanan. Tetapi menurut saya, Penulis mengingatkan
kepada kita untuk menulis apapun sebelum kita tiada dan nampaknya Penulis
berhasil hidup seperti manusia seutuhnya. Pastikan kamu juga menjadi manusia
seutuhnya, tidak hidup seperti hewan, segeralah menulis dan untuk menulis kamu
perlu membaca banyak buku. So,
pastikan kamu membaca dongeng ‘kaya’ ini, tetapi mohon maaf kamu harus berusia
di atas 18 tahun jika ingin membaca dongeng ini. Ingat, pastikan kamu mempunyai
KTP dan sudah berusia 18 tahun.
Rating goodreads:
4/5
Nilai "bedebah" yg kau berikan membuatku ingin membaca novel ini :)
ReplyDeleteJadi pengen baca euy.. pinjam dong.. hehehehe
ReplyDeleteKeren reviewnya! Nggak cuma penulis buku yang kaya bahasa. Penulis review ini juga tak kalah 'kaya' nya 😍
ReplyDelete