Aku Menyayangimu Melebihi Yang Kamu Tahu
Hari ini
tanggal 8 Juni 2017, saya bertemu dengan nenek, tetapi sayangnya itu adalah
pertemuan terakhir kami, karena saya harus mengantar nenek ke tempat terakhir. Ketika
kami bersiap mengangkat kurung batang, namun nenek terbangun dan menyapa kami. Spontan
kami terperanjat. Mungkin ini yang dinamakan mati suri. Kami pun langsung
memeluk nenek dan tanpa disadari bulir-bulir air mata berjatuhan dari mata
kami.
“Diah, ayo
cepat. Diah…”
Mamak mengguncang
tubuh saya.
Deg…
Seperdetik
kemudian mata saya terbelalak.
Just dream,
yup just dream. Saya pun langsung bangun dari tempat tidur dan bergegas untuk
pergi ke kantor.
Sepanjang bersiap
diri menuju ke kantor, saya berpikir mungkin saya kangen dengan nenek. Iya nenek
saya telah kembali padaNya pada tanggal 19 April 2017 malam. Nenek tidak sakit,
namun nampaknya Tuhan memberikan alasan kematian nenek dengan pertanda nenek
jatuh ketika ingin menutup gorden kamarnya.
Dua tahun sebelumnya
nenek berada di rumahnya yang sekarang saya dan keluarga menetap, di Jakarta.
Nenek lebih suka tinggal disana bersama kami karena beliau ingin melepas
kehidupan terakhirnya bersama anaknya yang paling disayang, bapak saya dan cucu
kesayangannya, abang saya. Iya nenek sangat sangat sayang sekali dengan bapak
saya, karena bapak satu-satunya anak lelakinya sekarang. Bapak dulu mempunyai
kembaran, namun ketika SMP kembarannya meninggal. Cerita itu yang dulu saya
dengan dari bapak. Dan saya menyimpulkan wajar saya jika nenek sayang sekali
kepada bapak.
Namun entah
apa alasannya nenek lebih menyayangi abang saya ketimbang cucu yang lain,
kadang saya berpikir, enak sekali jadi abang, kelebihan kasih sayang, bahkan
mamak saya pun lebih sayang abang ketimbang anak-anaknya yang lain. Hal ini
mungkin terjadi karena abang memang anak laki-laki satunya di keluarga inti
kami. Tetapi hal itu tidak menggugurkan rasa sayang dan cinta saya kepada
mereka.
Hal lucu
selama nenek berada di Jakarta yang selalu saya ingat adalah nenek sering
sekali marah kepada kami, cucu-cucunya jika memegang gudang uang,
tenggorokannya yang menggelambir. Dulu ketika kami kecil nenek selalu bilang
bahwa beliau punya gudang uang, di sini, di tenggorokannya. Olehkarena itu,
sampai kami besar, sering sekali memegang tenggorokan nenek dan berharap keluar
uang ketika memegangnya. Dan satu hal lagi adalah ketika di rumah nenek selalu
sendiri, karena kami semua beraktifitas, namun yang paling sering telat keluar
rumah untuk melakukan aktifitasnya adalah saya. Nenek berkata dengan aksen
Plembang yang kira-kira artinya seperti ini “Mudah saja mengecek kamu sudah
pergi, tinggal lihat ke atas tangga, jika handuk kamu masih ada berarti kamu
belum pergi namun jika handuk sudah tidak ada maka kamu sudah beraktivitas”. Dan
sontak saya tertawa, mendengar kejenakaan nenek.
Pada dasarnya
semua manusia akan meninggalkan dunia yang memang sifatnya sangat sementara. Dan
akan hidup selamanya di akhirat nanti. Ketika manusia meninggalkan dunia ini
yang tersisa hanyalah segala kenangan suka dukanya. Apapun itu, nenek memang
sudah tiada lagi di dunia, namun nenek selalu di hati saya, mereka dan kami
selamanya. Semoga kita dipertemukan di surgaNya. Nenek baik-baik ya di sana,
saya janji akan selalu menjaga anak kesayangan nenek, dan bukan hanya itu saja,
Nek. Saya juga berjanji akan membahagiakan anakmu dengan seluruh kemampuan yang
ada. Membahagiakannya lahir dan batin memang sudah sepantasnya menjadi kewajiban
saya. Oiya Nek, saya minta maaf kalau selama ini mungkin selalu membuat nenek
marah, mungkin kami juga akan jarang ke makam nenek, karena jarak yang sangat
jauh. Bagaimana pun, Diah sangat sayang kepada nenek melebihi yang nenek tahu.
Arhamukum fillah. Love you to the moon and back.
Comments
Post a Comment