Your Future Depends on Your Response
Change Your Response, Change Your World – Harry Firmansyah (Trainer) –
Quote di
atas, pertama kali saya dengar dari kawan saya, Rahma. Beberapa kali ketika
bersama saya, seringkali dia mengucapkan kata-kata itu. Saya termasuk orang
yang selalu menyerapi kata-kata yang pernah saya baca bahkan dengar, but mostly
they called it BaPer (Bawa Perasaan). Bahkan saya menangis ketika membaca buku
Sabtu Bersama Bapak karya Aditya Mulya di TransJakarta, dan terakhir saya
menangis ketika menonton episode 12 dari Best TV Serial 2017, 13 Reasons Why.
Bisa menyerapi kata-kata yang dibaca dan didengar adalah anugerah yang Tuhan
berikan kepada saya, karena tak jarang manusia yang diberikan kelebihan ini. Dan
sesuatu yang menurut saya anugerah tetapi lebay atau BaPer menurut sebagian
orang inilah yang membuat saya selalu mengingat ucapan Rahma, sampai saat ini.
Banyak hal negatif dalam dunia
ini, seperti contohnya ketika kamu melihat mantanmu, jalan dengan kekasih
barunya, kemudian kamu terngiang betapa jahatnya dia ketika kamu mulai ingin
menjalani ke hubungan yang lebih serius, namun dia minta putus karena alasan
klise, kamu terlalu baik atau aku belum siap untuk serius. Kalau kamu merespon
hal tersebut dengan meratapi diri selama bertahun-tahun, atau mungkin kamu akan
menyalahkan diri kamu sendiri. Namun, jika kamu memandang momen ini dari sisi
positif, tidak menyalahkan diri sendiri dan berusaha meyakinkan diri bahwa kamu
layak untuk mendapatkan yang lebih baik dan kamu tidak perlu membuang waktu
untuk meratap selama bertahun-tahun. See,
your future depends on your response in every moment, right?
Memandang sesuatu dari sudut
pandang yang positif dan berbeda membuat pikiran kita terbuka. Penulis favorit
saya, Kang Maman Suherman selalu mengingatkan siapapun yang membaca tulisannya
untuk berpikir positif. Teringat tulisan Kang Maman dalam novel Re (based on true story), yang mengangkat
kisah pelacur lesbian, siapa pun bahkan termasuk kamu mungkin menganggap
orang-orang seperti Re adalah (maaf) sampah masyarakat. Tetapi, Kang Maman
menulis kisah Re dari sudut pandang yang berbeda, yang mana intinya yang
dilakukan Re adalah bukan karena keinginannya namun karena ia terjebak dan
terpaksa akan situasi yang melanda. Sekotor apapun manusia, kita bukan Tuhan
yang bisa sembarangan menghakimi setiap gerak-geriknya. Berkat respon yang
berbeda dari Kang Maman terhadap Re, ia berhasil mencetak ulang novel Re, bahkan
kehadiran sekuelnya, peRempuan selalu dinanti oleh pembacanya. Bayangkan jika
Kang Maman hanya melihat apa yang terlihat, keburukan Re, mungkin saya pun
tidak akan tahu bahwa ada Penulis yang bernama Maman Suherman
Honestly, ketika saya mendengar
kata Change Your Respon, Change Your World dan mulai mempraktikannya dari
beberapa tahun yang lalu, it’s really work guys! Sekarang saya jarang sekali
marah, sedih bahkan panik. Karena respon-respon tersebut harus selalu
dihindari. Beberapa waktu lalu saya tahu ada kawan yang membicarakan saya,
sahabat saya bertanya, kok kamu ga marah Sal dibicarakan seperti itu? Dengan tenang
saya menjawab, saya gak merasa melakukan itu, terus kenapa saya harus marah. Lha
wong artis juga banyak yang dihujat trus mereka diam saja. Mungkin memang ini
cara Tuhan menguji saya, sebelum jadi artis. Haha.
So, thank to my close friend, Rahma
yang sudah mengenalkan kata yang menyihir dan merubah sudut pandang saya
terhadap segala sesuatu yang dialami. And
now, I can see my bright bright future, how about yours? Did you have change
your response to change your world?
Comments
Post a Comment