Dari Merem Ke Melek by Ernest Prakasa (Book Review)
Judul: Dari Merem Ke Melek (Catatan Seorang
Komedian)
ISBN: 978-979-0498-4
Penerbit:
KPG
Penulis:
Ernest
Prakasa
Terbit: Oktober 2012 (Cetakan ke-1)
Halaman: 89 halaman + VCD
Bahasa: Indonesia
Harga:
Rp 20.000 (Bazar
Gramedia Depok)
Dari Merem ke Melek (Catatan
Seorang Komedian) karya Ernest Prakasa, namanya mulai melambung tinggi sejak
mengikuti acara Stand Up Comedy
Indonesia (SUCI), Kompas TV. Komika keturunan Cina ini, banyak melemparkan punchline yang selalu membuat penontonya
sakit perut. Dia juga berhasil melakukan tur stand up comedy pertamanya, dari merem ke melek di 11 kota di
Indonesia, yang dapat dilihat di DVD ini dan jelas buku ini sebagai panduan
bagaimana menghasilkan punchline yang
ga nge-bomb.
Menariknya, ini buku non fiksi ke-2 Ernest
tentang stand up comedy-an. Buku non
fiksi yang pertama adalah terjemahan Step
by Step to be stand up comedy karya Komika AS ternama, Greg Dean. Namun, menurut saya kali ini Dari Merem Ke
Melek adalah buku yang lebih mudah dicerna dibanding buku Grean Dean yang
diterjemahkan oleh Ernest.
Ia menjabarkan secara jelas
bagaimana menangkap ide, menggali materi, membuat persona dan cara delivery materi yang telah dibuat. Dan
saya sangat suka bagaimana Ernest memberikan motivasi serta contoh yang tepat
untuk menjadi sosok Komika, menurut saya
malah buku ini lebih cocok diberi judul buku
panduan menjadi stand up comedy-an. Stand up comedy adalah salah satu bagian dari
public speaking, mungkin karena itulah yang membuat saya membaca
buku ini sampai akhir, selain
karena buku ini lucu.
Selain itu, dalam buku ini
Ernest juga membahas tentang bagaimana sejarah dia dalam dunia stand up comedy serta pahlawan stand up comedy menurutnya. Kemungkinan
kamu akan sakit perut dan pintar setelah membaca buku ini, kenapa? Karena buku
ini sangat lucu dan usefull,
terutama bagi kamu yang tertarik dalam dunia stand up comedy dan public
speaking. Ohya dalam
setiap bab nya, di awal Ernest akan menyajikan bit-bit andalannya dan saya
yakin setiap bacanya kamu akan bilang “Dasar Cina!” kemudian tertawa terbahak.
Hahaha.
Dan ini adalah bit Ernest yang
paling saya suka:
“Apartemen di Jakarta terus
bermunculan, dan herannya, laku. Apa enaknya ya tinggal di apartemen? Enakan
juga tinggal di rumah biasa. Di apartemen kayanya lebih repot, apalagi di
lantai 20, misalnya. Kebayang ga kalau ada jemuran jatoh. Atau misalnya mau manggil tukang ketoprak.
Musti teriak sekenceng apa? KETOPRAAAK! Yang ada tukangnya nyangkain dia di
panggil Tuhan”.
Gimana lucu kan? Oh kalau belum
nampol saya kasih joke lain dari Ernest, ini favorit saya yang kedua.
“Mata saya yang sipit ini
mengajarkan bahwa orang Cina itu rendah hati, tidak pernah memandang sebelah
mata. Pake dua mata aja susah, apalagi Cuma sebelah?”
Gimana lucu kan?
Oh, kalau menurut kamu tidak
lucu ada tiga kemungkinan: Kamu punya selera komedi yang berbeda, kamu sedang
sial atau kamu sedang sembelit. Demikian Ernest berkata. Hahaha.
Tetapi buku ini bukan berarti
tidak ada kekurangan, menurut saya buku ini terlalu tipis, bahkan saya
melahapnya tidak sampai satu jam, seandainya Ernest membuat buku ini lebih
tebal mungkin saya akan tambah satu bintang. Selain itu, beberapa foto Ernest
dalam buku ini sekiranya agak mengganggu dan tidak ada faedah, tapi apa boleh
buat karena ini buku dia maka dia berhak memasang fotonya bahkan sekalipun
setiap lembarnya dan juga agak termaafkan karena Ernest, Cina. Eh, salah
maksudnya karena dia good looking.
Anyway big thank’s to Ernest karena dia saya tahu bagaimana
membuat persona diri dan tanpa disadari bahwa selama ini saya memang sudah
melakukanya, saya pun semakin mantap bahwa persona itu memang cocok banget buat
saya. Ernest juga mengingatkan kita bahwa everyone
need to know how make good joke and to be stand up comedy-an, nyatanya di
Amerika memang banyak yang mengambil kursus stand up comedy, karena memang
orang lucu itu mengasikan dan saya pun setuju dengan kutipan tersebut. Karena
mayoritas wanita hanya perlu lelaki yang humoris ketimbang ganteng. Nyatanya
saya lebih suka Raditya Dika ketimbang Reza Rahardian.
Rating: 4/5

Comments
Post a Comment