Critical Eleven (Movie Review)
Setiap insan mempunyai banyak cerita, apalagi dua insan yang menjadi satu
pastilah mempunyai cerita lebih banyak. Namun, cerita dua insan yang kehilangan
seseorang lebih menyayat dan memilukan hati. Terkadang kita perlu menyimak
kisah tentang kehilangan, karena dengan itu kita akan menghargai arti dari
bersyukur ketika memiliki.
Film Critical Eleven, yang
diadaptasi dari novel berjudul sama karya Ika Natassa menggambarkan tentang 11 menit
masa kritis ketika bepergian dengan pesawat. 3 menit masa krisis setelah take off dan 8 menit sebelum landing adalah hal yang paling
mengerikan, dimana Pilot harus benar-benar berkonsentrasi, karena ketika 11
menit itulah sering sekali terjadi kecalakaan pesawat. Ika Natassa
menganalogikan 11 menit masa krisis pada pesawat seperti 11 menit ketika kita
bertemu orang baru dari kehidupan kita, 3 menit pertamalah yang akan menentukan
apakah dia tertarik berbicara kepada kita dan 8 menit terakhir yang menentukan
apakah pertemuan ini akan berlanjut ke tahap selanjutnya, seperti berteman atau
mungkin lebih. So, Anya dan Ale, selaku pemeran utama dalam film ini
memperagakan 11 menit masa krisis dengan baik.
Setiap film pastinya menarik di bagian konflik, agaknya saya merasakan konflik
dalam film terlalu lama munculnya dan di awal disajikan adegan Anya (Adina
Wirasti) & Ale (Reza Rahardian), tetapi hal itu termaafkan karena Anya dan
Ale berperan sangat baik dan sungguh chemistry
nya sangat apik, saya pikir mereka akan mendapatkan Best Couple dalam beberapa penghargaan 2017.
Anya dan Ale menikah setelah beberapa bulan setelah 11 menit masa krisis
pertemuan mereka di pesawat dan tinggal di New Work. Sampai pada akhirnya Anya
dinyatakan hamil dan mereka memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Dan scene
ketika Anya kehilangan sang buah hatilah, lagi-lagi seperti biasa jika menonton
film yang adegannya menyayat dan mengiris hati mata saya langsung panas, inget
panas ya bukan mengeluarkan air mata! J
Scene ini.... oh God, dada saya agak sesak menulis bagian
ini. Saya rasa orang tua mana pun senang sekali kehadiran sang buah hati,
mereka-lah orang pertama yang melihat sang buah hati membuka mata di dunia ini.
Dan tak pernah terpikir sedikit pun untuk mengantar mereka menuju tempat
terakhir dan menutup mata selamanya. This
scene was really hurt me. Konflik dalam film ini terus bergulir, annoying one is when Ale said “Kalau kamu ga kerja terus mungkin
Aidan (sang buah hati) masih hidup”. What
the hell, man!. Saya mulai menyumpah serapahkan Ale ketika adegan itu,
saking keselnya saya berkata “Kalau gitu lo aja yang hamil, Le!”.
Well Ika Natassa is one
of my favorite writer. Di setiap bukunya Ika selalu membuat siapapun yang membacanya mencintai dan
membenci salah satu karakternya, atau bahkan keduanya. Ika sangat jenius dalam
memilih karakter yang pas untuk dicintai pembacanya, tak heran semua yang
membaca bukunya akan menunggu buku berikutnya dan menanti karakter yang hebat,
Ika Natassa selalu membuat karakter yang ‘”lovable”. It’s true. Trust me guys. You must read all of her books.
Anyway, yang harus dipuji juga
dalam film ini adalah pengambilan gambar yang sangat memanjakan mata. Well you must watch this movie, kalau
sudah nonton saran saya baca bukunya yaa, karena Ika banyak memberikan kejutan
dalam bukunya yang tidak begitu banyak ditampilkan dalam filmnya. Dana kalau
kamu sudah baca semua buku Ika Natassa, berarti kamu tahu pastinya, bahwa akan
ada sekuel dari Critical Eleven
dengan judul yang berbeda. Kira-kira kisahnya siapa yang akan difilmkan
terlebih dahulu, kisahnya Haris, sang adik yang bad boy dalam Novel Antologi Rasa? Oh, saya harap tidak. Saya harap
film kisah cinta Raia dan Bapak Sungai terlebih dahulu hadir, cause I really love both of them dan
ketulusan Ika dalam cerita The
Architecture of Love.
Apapun itu mari kita menunggu film karya Ika Natassa lainnya dengan penuh
kesabaran. Kalau saya sambil menunggu film lainnya tayang, saya berdoa semoga
jodoh lekas datang! Nunggu jodoh aja kuat dan sabar, apalagi nunggu film Ika
Natassa. Haha.
Comments
Post a Comment